SURABAYA – Program Surabaya Mengajar (PSM) yang berlangsung sejak akhir Januari 2026 resmi berakhir pada Jumat, 12 Juni 2026, di SMP Negeri 22 Surabaya. Selama kurang lebih lima bulan, sebanyak 27 mahasiswa dari 13 program studi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengabdikan diri sebagai pengajar pendamping di sekolah ini. Momen berakhirnya program ditandai dengan perbincangan hangat dan penuh kesan antara mahasiswa PSM bersama jajaran kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah.

Mahasiswa Program Surabaya Mengajar (PSM) UNESA berfoto bersama jajaran kepala sekolah, guru, tenaga TU, dan komite SMPN 22 Surabaya pada penutupan program, Jumat (12/6/2026). (Foto: Dokumentasi Tim Komdaksi IKOM UNESA)
Program Surabaya Mengajar merupakan program baru yang menggantikan Program (PLP) yang sebelumnya diselenggarakan UNESA. Hampir sama dengan PLP di ranah pendidikan, program ini dirancang dengan tujuan utama membentuk calon pendidik yang lebih kompeten melalui pengalaman langsung di lapangan, dengan pola pelaksanaan yang lebih terarah sesuai bidang keilmuan masing-masing mahasiswa.
Salah satu hal yang membedakan mahasiswa PSM dengan guru pada umumnya adalah intensitas dan jadwal mengajarnya. Guru tetap mengajar secara penuh dari pagi hingga jam pulang sekolah, sedangkan mahasiswa PSM hanya mengajar sesuai dengan mata kuliah atau bidang yang diampu, seperti Bahasa Jawa, IPS, dan mata pelajaran lainnya, dengan frekuensi sekitar dua hingga tiga kali dalam satu minggu. Pola ini memungkinkan mahasiswa untuk fokus mendalami praktik mengajar pada bidang keahliannya tanpa meninggalkan tanggung jawab akademik di kampus.
Salah satu mahasiswa yang turut merasakan manfaat program ini adalah Zuri, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan IPS UNESA semester 6, yang menjadi salah satu perwakilan untuk diwawancarai oleh Tim Komdaksi IKOM UNESA. Dalam perbincangannya, Zuri mengungkapkan bahwa selama menjalani PSM di SMPN 22 Surabaya, ia memperoleh banyak insight dan pembelajaran baru yang tidak didapatkan di bangku kuliah.
“Selama mengikuti PSM di sini, saya benar-benar mendapatkan banyak insight dan pembelajaran baru. Program ini membuka wawasan saya lebih jauh tentang bagaimana dunia pendidikan itu berjalan secara nyata, tidak hanya teori,” ujar Zuri.

Suasana perbincangan hangat perpisahan antara mahasiswa PSM dengan guru pamong di lingkungan SMPN 22 Surabaya. (Foto: Dokumentasi Tim Komdaksi IKOM UNESA)
Lebih lanjut, Zuri juga menyampaikan kesannya terhadap SMP Negeri 22 Surabaya yang akrab disapa “Spendapuda”. Menurutnya, sekolah ini benar-benar memberikan pengalaman nyata mengenai bagaimana konsep sekolah ramah anak diterapkan sehari-hari, mulai dari interaksi antara guru dan siswa hingga lingkungan belajar yang inklusif dan suportif.
“Spendapuda benar-benar memberikan pengalaman bagaimana sekolah ramah anak itu sesungguhnya. Sekolah ini juga sangat terbuka untuk menerima mahasiswa PSM, sebagai bentuk pengabdian baik kepada Kota Surabaya maupun negara,” tambahnya.
Dengan berakhirnya Program Surabaya Mengajar di SMPN 22 Surabaya, diharapkan pengalaman yang diperoleh para mahasiswa dapat menjadi bekal berharga dalam mempersiapkan diri sebagai tenaga pendidik profesional di masa depan. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa PSM juga turut memberikan warna baru bagi proses pembelajaran di sekolah selama lima bulan terakhir.
Penulis: Ariel Eka Perdana | Liputan & Dokumentasi: Ariel Eka Perdana & Muhammad Anzaki Alim
Penulisan Berita SMPN 22 Surabaya, bekerja sama dengan Tim Komdaksi Ikom UNESA sebagai penulis berita.
